Showing posts with label Lean Manufacturing. Show all posts
Showing posts with label Lean Manufacturing. Show all posts

Lean Manufacturing. "Perang" untuk Membasmi Waste.

Lean Manufacturing? "Perang" untuk membasmi Waste demi efisiensi, efektifitas, fleksibilitas? Apa lagi?

Pembaca Quality Forum yg budiman, Lean adalah bahasa Inggris yg berarti kurus atau tidak berlemak. Sedangkan Manufacturing berarti produksi. Lean Manufacturing atau juga disebut Lean Production, atau “Lean” saja, adalah sebuah philosophi manajemen modern yg diilhami oleh konsep “Kaizen” yg bertujuan menghilangkan waste di dalam system produksi.

Dengan kata lain, Lean Manufacturing adalah upaya membuang “lemak” dan waste atau sisa proses di tempat kerja yg tidak memberi “nilai”(value) pada produk.

Jadi, berbicara Lean Manufacturing adalah berbicara tentang sumber-sumber yg tidak produktif (non-productive resources), baik itu berupa proses, hardware, maupun software, yg tidak menguntungkan bagi keseluruhan proses produksi untuk kemudian membuang non-productive resources tsb sehingga yang ada tinggal sumber-sumber atau proses yg memang memberi manfaat bagi pemakai produk kita nantinya. (Baca kisah tentang “Mie Ayam Bang Kurus vs Mie Ayam Bang Gendhut atau KLIK DI SINI ).

Contoh sederhana Lean adalah peralatan yg rusak, produksi dan inventory yg berlebih, pekerjaan yg tidak lancar (Lead Time), kelebihan staf, proses yg sebenarnya bisa dihilangkan, ruangan yg terlalu luas, jalur pengiriman yg terlalu panjang, target mutu yg tidak tercapai, dsb. Begitu Lean ini teridentifikasi, maka harus segera dikoreksi guna tujuan yg jelas, misalnya mengurangi Lead Time, meningkatkan mutu, menurunkan biaya produksi dan mencapai hasil yg cukup berarti.

Bekerja secara “Lean” adalah bekerja yg memandang “Value” dengan sudut pandang pembeli yg menggunakan produk kita, yakni “Value” adalah setiap aktivitas atau proses yg pembeli mau membayarnya. Jadi, pada dasarnya Lean Manufacturing berfokus pada “Sedikit Bekerja, Banyak Value” (More Value with Less Work).

Implementasi Lean Manufacturing tahapannya adalah sbb:

1. Menyadari adanya Waste dan identifikasi bentuk maupun jenis waste.
2. Menentukan Root-cause (akar penyebab) timbulnya Waste.
3. Menetapkan solusi secara menyeluruh, tidak hanya pada area tertentu untuk mengatasi akar penyebab timbulnya Waste.
4. Implementasi solusi.

WasteDaRaRi

Ada tiga jenis Waste dalam Toyota Production System yg merupakan cikal bakal Lean Manufacturing, yakni Muda, Mura, dan Muri (Sebut saja ”DARARI”). Dan menghilangkan Waste diyakini merupakan cara paling efektif untuk meningkatkan profitabilitas.

Muda” adalah aktivitas yg tidak bermanfaat, tidak menambah nilai (Value) atau tidak produktif. Karena tidak memberi nilai tambah, maka aktivitas ini dikategorikan Waste.

Mura atau inkonsistensi adalah Waste yg timbul karena variasi atau ketidak-seimbangan dalam beban kerja yg diakibatkan oleh jadwal produksi yg tidak teratur atau volume produksi yg berfluktuasi yg mengakibatkan produktivitas yg rendah sementara tetap dibutuhkan kesiapan sumber-daya yg tinggi.

Muri (English: Unreasonable) adalah bahasa Jepang yg berarti tidak beralasan dan juga irasional. Jadi, WasteMuri” terjadi karena beban kerja yg terlalu banyak, atau proses / urutan kerja yang terlalu panjang, unreasonableness of absurdity. Waste Muri dapat dihindari melalui standardisasi kerja dan penyederhanaan proses atau fungsi.

Sedangkan jika dirinci lebih lanjut bentuk dan jenis Waste tersebut terdapat delapan, yakni:

1. Over-production, yakni produksi yg melebihi kebutuhan / permintaan konsumen mengakibatkan investasi yg lebih besar dari semestinya karena kebutuhan material dan energy yg lebih banyak, ruang penyimpanan yg lebih luas, dll.

2. Transportation, adalah tranportasi yg tidak memberi nilai tambah pada produk. Sebaliknya justru memperbesar resiko kerusakan, kehilangan, serta penundaan.

3. Inventory atau persediaan yg mandek mulai dari bahan baku, produk dalam proses, dan produk jadi yg belum mendatangkan penghasilan.

4. Motion atau pergerakan pekerjayg tidak perlu. Ini biasanya timbul karena Layout yg tidak tepat.

5. Defects atau produk cacad seringkali memerlukan usaha tambahan atau Rework untuk memperoleh kembali Value. Pekerjaan tambahan ini dikategorikan Waste.

6. Over-processing, adalah proses yg seharusnya tidak perlu karena tidak memberi nilai tambah. Penyebabnya antara lain karena peralatan yg tidak berfungsi, sehingga pekerja harus menambah kegiatan atau alat bantu lain supaya bisa berfungsi.

7. Waiting atau waktu tunggu karena belum tersedianya bahan baku, terhentinya proses produksi, tidak adanya peralatan, menunggu informasi, dll, dikategorikan pula sebagai Waste.

8. Under-utilized People atau, katakanlah, pengangguran tersembunyi merupakan pemborosan karena pekerja tidak mengeluarkan segala kemampuannya.

Implementasi Lean Manufacturing memerlukan Tools, seperti 5S (5R), Six Sigma, Kanban, Value Stream Mapping, Kaizen, dsb.

Sejarah Lean Manufacturing

Lean Manufacturing, juga dikenal dengan nama “Toyota Production System (TPS)”, diadopsi di Jepang ketika mulai membangun kembali negaranya setelah Perang Dunia II. Karena menghadapi masalah keuangan dan sumber daya material, Toyota Motor Company-Jepang membangun system produksi yg berfokus pada proses dan disiplin tinggi dengan satu tujuan yakni meminimalkan konsumsi sumber daya yg tidak memberi nilai tambah pada produk.

Kata Lean berarti sedikit sumberdaya manusia, sedikit modal / dana, sedikit material, dsb, di semua aspek operasi perusahaan. Penerapan Lean Manufacturing inilah yg membuat Toyota sukses dalam beberapa dekade ini. Itulah sebabnya industri manufacturing di seluruh dunia banyak yg kemudian mengadopsi system ini guna mencapai sukses seperti yg diraih Toyota.

Lean Manufacturing
tidak hanya berlaku untuk pabrik atau produksi barang, melainkan juga bisa diaplikasikan pada sector non produksi atau jasa, kantor, bahkan di rumah karena di tempat-tempat ini pula sering terdapat elemen yg tidak memberi nilai tambah. Elemen ini merupakan Waste yg harus dihilangkan.

Kini, teknik Lean Manufacturing, atau “Lean Thinking” tidak lagi menjadi sekedar Tools atau alat, melainkan sudah menjadi sebuah Way of Life (Cara Hidup) guna meningkatkan secara berkesinambungan proses / methoda produksi untuk meminimalkan konsumsi dan memaksimalkan produksi.

Perlukah Lean Manufacturing diterapkan di perusahaan Anda?

Untuk menjawab pertanyaan itu, berikut ini ada beberapa pertanyaan yg perlu dijawab:

1. Apakah perusahaan kita sudah aman, bersih, dan terorganisir dengan baik. Jika ada tamu yg berkunjung ke pabrik, apakah tidak memerlukan Extra Cleaning?

2. Apakah pemindahan material hanya sekali dengan jarak yg pendek dan sesuai kapasitas alat angkut? Dan, apakah Supply-Chain inventory, energy, dsb, tidak terlalu jauh sehingga efektif dan efisien?

3. Apakah informasi terkait produksi, pengiriman dan quality, secara teratur di-update dan dapat dibaca secara jelas oleh semua pihak terkait?

4. Apakah Preventive Maintenance dilakukan untuk setiap mesin dan dijalankan sesuai jadwal oleh karyawan yg terlatih?

5. Apakah secara teratur kita membenahi proses dengan menggunakan data, fakta, dan methoda statistik?

6. Apakah semua prosedur kerja sudah distandardisasi, direview, dan di-improve oleh team kerja secara teratur?

7. Apakah produksi didasarkan pada aktual order pelanggan dan secara teratur di-update secara harian atau per jam?

8. Apakah Set-up mesin bisa cepat dan simple? Dan, seberapa sering dilakukan?

9. Apakah personil kita fleksibel dan terlatih secara lintas fungsi? Dan apakah staf kita terbiasa membantu departemen lain jika dibutuhkan?

10. Apakah Meeting dalam rangka Improvement pekerjaan dilakukan secara teratur dan melibatkan semua karyawan?

11. Apakah Downtime dicatat, dan hasilnya digunakan secara rutin dalam rangka Improvement peralatan?

12. Apakah Supplier kita dapat dipercaya dan diandalkan? Apakah kita secara teratur memantau, mengevaluasi kinerja Supplier sebagai dasar pembuatan kebijakan? Apakah kita tidak perlu melakukan pengawasan / pengecekan lagi terhadap barang yg kita terima?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tsb di atas akan menentukan apakah kita perlu menerapkan Lean Manufacturing. Semakin banyak jawaban ”Ya” menggambarkan kondisi perusahaan kita mendekati Lean, demikian sebaliknya. Bagaimana menurut pendapat Anda?

*) Disarikan dari berbagai sumber.

Lean Manufacturing: Mie Ayam Bang Kurus Vs Mie Ayam Bang Gendhut

Lean Manufacturing itu pada prinsipnya bagaimana, sich? Coba perhatikan kisah Mie Ayam Bang Kurus Vs Mie Ayam Bang Gendhut ini. Ini asli cerita buatan saya, lho. Yg menyebarluaskan, harus bayar royalti! He he...

Alkisah, ada sepasang Cowok dan Cewek yg sedang berkunjung di Pasar Malam. Si Cowok bekerja di perusahaan yg belum menerapkan Lean Manufacturing, sebaliknya Si Cewek adalah karyawati yg bekerja di perusahaan yg sudah menerapkan Lean Manufacturing, sebut saja namanya ”Lina”.

Mereka nampak mesra sekali. Sambil bergandengan tangan mereka melihat-lihat setiap Stand pameran. Sampai suatu ketika mereka merasa lapar. Kebetulan pas sampai di stand makanan mereka melihat ada dua penjual mie ayam. Yang di sebelah kiri namanya ”Mie Ayam Bang Kurus”, sedang yg di sebelah kanan namanya ”Mie Ayam Bang Gendhut”. Maka berkatalah Sang Cowok pada ceweknya:

”Lin, kita makan mie ayam Bang Gendhut, yo! Aku pernah beli di sana. Lumayan, koq!”
”Nggak mau. Mie ayam Bang Kurus saja!” jawab Lina.

”Lho, emangnya kamu pernah beli di sana, Lin?”
”Belum, sech. Tapi, saya yakin mie ayam Bang Kurus lebih enak dan lebih murah”, jawab Lina.

”Ya, enggak lah. Namanya juga Bang Kurus. Pasti orangnya pelit. Isinya juga pasti cuman sedikit. Seperti orangnya yg kurus!” Sahut si cowok sedikit emosi.
”Nggak mau! Saya tetap pilih Bang Kurus, karena saya yakin pasti lebih memuaskan”.

”Koq, kamu yakin banget, Lin!” Tanya si Cowok heran dan mulai curiga, jangan-jangan pacarnya ini ada apa-apanya dengan Bang Kurus.

”Tolong jelasin ke saya, dech Lin. Kenapa kamu milih mie ayam Bang Kurus!”.

”Okey. Saya mo tanya, nech!” Sahut Lina agak nyombong. ”Di perusahaan kamu sudah menerapkan Lean Manufacturing belum?”

”Apaan, tuh? Belum pernah, sech!” Sahut Si Cowok kelihatan bodonya.

”Well. Saya tidak mau jelasin teorinya. Saya mau jelasin ciri-ciri hasil atau produknya saja!” Jelas Si Lina memulai penjelasannya penuh percaya diri.

”Begini. Perusahaan atau pengusaha yg sudah menerapkan Lean Manufacturing itu tidak akan memberi kepada konsumennya barang yg tidak dibutuhkan oleh konsumennya tsb. Contohnya, kalau mie ayam, maka tidak akan ada tulang ayamnya, karena pembelinya bukan sebangsa anjing yg doyan makan tulang. Betul, nggak?! Kalau tulang muda masih mungkin, karena ada pembeli yg suka tulang muda. Itu pun pasti ditanya dulu apakah mau tulang muda apa nggak.

Ia juga tidak akan langsung menambahkan pelengkap yg belum tentu dikehendaki pembelinya, misalnya daun Onclang atau acar Ketimun. Kalau pun ada tambahan seperti itu, maka pasti ditempatkan pada wadah tersendiri, sehingga pembelinya bisa memilih untuk mengambil kalau butuh, atau tidak mengambil karena memang tidak butuh. Demikian pula sambal, saus, kecap, dsb.

Perusahaan atau pengusaha yg sudah sudah menerapkan Lean Manufacturing, dalam proses produksinya biasanya efisien. Tidak ada pemborosan energy, karyawannya sesuai kebutuhan – tidak ada pengangguran tersembunyi, tidak ada stock yg berlebihan, tidak ada proses yg tidak memberi nilai tambah pada produk akhir.

Supply chain atau rantai pasokan juga pendek, jadinya cepat, hemat. Jika ada barang substitusi yg lebih murah tanpa menurunkan kualitas, maka akan dipakai barang substitusi tsb. Misalnya, kalau dalam mie ayam, adalah tusuk gigi. Pengusaha mie ayam yg sudah menerapkan Lean Manufacturing akan memilih tusuk gigi dari bambu yg lebih murah, daripada tusuk gigi dari kayu buatan pabrik yg lebih mahal.

Hasil akhir dari Lean Manufacturing adalah biaya produksi yg lebih rendah, lebih efisien, sehingga pembeli tidak perlu membayar barang atau jasa yg tidak ia butuhkan. Ibarat orang beli daging sebanyak 5 kg, maka ia mendapatkan daging murni seberat 5 kg, bukannya termasuk lemak yg mungkin beratnya mencapai setengah kg. ”Lean” itu sendiri dari bahasa Inggris yg artinya kurus atau tidak berlemak. Gitu, lho Mas! Makanya, kita beli mie ayam Bang Kurus, saja, ya?!” Pinta Si Lina manja.

”Kamu koq pinter, sech, Lin?! Oke, dech kalau gitu. Kita beli mie ayam Bang Kurus saja!” Kata si cowok mantap. Maka mereka pun beli di sana.

Setelah mereka selesai makan, Lina bertanya pada cowoknya:

”Gimana, Mas?!. Enak, to... mantep, to...?!”

”Bener juga kamu, Lin. Iya, enak… mantep… Kayak kamu!” Jawab Si Cowok sedikit menggoda.

”Ich, emas...!” jawab Lina tersipu.

DAFTAR ISI:

Blogvertise Click Here to Advertise On My Blog Increase Website Traffic

Custom Search